Makhluk hidup dilahirkan di dunia ini dituntut untuk dapat bertahan sebisa mungkin. Untuk dapat bertahan hidup pada jaman seperti ini kita tidak hanya harus memiliki otot & tenaga yang kuat. KIta juaga harus memiliki kecerdasan,entah itu kecerdasan intelektual (IQ) atau mungkin kecerdasan emosi (EQ) mungkin juga kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan intelektual, atau bisa juga disebut kepandaian yang tersimpan pada fungsi otak kiri. Biasanya kecerdasan intelektual ini dapat digunakan untuk membantu orang tua pada masa-masa sekolah. Karena sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah kita sering ditanya guru kita,"seberapa pandaikah kamu?".
Jika kita memiliki kepandaian yang lebih,mungkin akan ada penawaran beasiswa ataupun lomba-lomba untuk kita. "Dengan intelektual tinggi, mungkinkah kita akan hidup sejahtera kelak?". Tentu saja tidak, buktinya masih ada banyak orang pandai yang masih menganggur. Jadi kita ambil kesimpulan, bahwa IQ yang tinggi bukan jaminan hidup sejahtera. Karena ada juga kecerdasan lain yang sama pentingnya dari kecerdasan intelektual (IQ). Yaitu kecerdasan emosional (EQ)
Kecerdasan ini serin juga disebut kepandaian bersosialisasi. Sebab orang yang memiliki EQ yang bagus akan lebih mudah mendapat kesempatan-kesempatan emas daripada oran yang memiliki IQ tinggi. Sebab orang yang memiliki EQ tinggi akn lebih mudah mendapatkan hati orang lain,dan dapat pula mengendalikan suasana. Menurut hasil penelitian di New York-Amerika manusia tidak hanya memiliki IQ & EQ. Tetapi ada juga kecerdasan Spiritual, yaitu kecerdasan yang dapat mengendalikan kedua kecerdasan tersebut.
Sampai sa'at ini masih banyak yang menanyakan,"apa itu SQ?". Menurut penelitian SQ adalah kepandaian dalam memilih. Banyak orang awam yang masih bingung,"Apakah Naluri itu SQ?". jawabanya masih belum saya temukan.
Akan tetapi menurut saya itu semua sudah menjadi takdir kita, "apa yang akan kita lakukan bila memiliki IQ,EQ,SQ yang sangat bagus atau mungkin sempurna?". Menguasai dunia, ataukah menjadikan diri kita sebagai Tuhan? Itu semua tergatun pada kuasa-Nya kita hanya mampu berpasrah diri.